Tampilkan postingan dengan label tradingjual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradingjual. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juli 2014

Kapan saat menjual Saham ?

Jawaban dari pertanyaan itu seringkali jauh lebih sulit dibandingkan jawaban mengenai saham mana yang menarik untuk dibeli. Kenyataannya, selalu ada pilihan : tetap dimiliki atau dijual. Jadi pilihlah alasan yang tepat. Beberapa alasan yang biasanya digunakan oleh investor adalah sebagai berikut :

  1. Investor menyadari telah membuat keputusan yang salah. Saat membeli saham, investor akan membuat asumsi sebagai hasil analisis dari suatu bisnis. baik analisis teknikal, maupun fundamental, termasuk rumor-rumor yang ada. Karena investasi ini menyangkut masa depan, dalam perjalanannya terkadang ada faktor yang sebelumnya tidak diperhatikan tetapi berpengaruh besar pada kinerjanya. Misalnya : krisis Amerika Serikat tahun 2008-an yang berdampak anjloknya beberapa harga saham di Indonesia. Padahal kejadiannya diluar negeri, tetapi berdampak di Indonesia juga. Jika suatu saat terjadi hal semacam itu, ingat, investor harus punya target cut loss untuk saat menjual saham agar kerugian tidak semakin besar lagi
  2. Kondisi fundamental perusahaan telah berubah. Saham perusahaan yang dibeli, biasanya mencerminkan kemampuan potensi perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Tetapi bisnis tidak ada yang abadi, karena persaingan, keterbatasan, peraturan dll. Terus bagaimana jika perusahaan mulai stagnan karena tidak ada ruang untuk ekspansi usaha lebih lanjut. Jika investor bersikukuh untuk tetap memegang sahamnya, maka dipastikan imbal hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan.
  3. Nilai saham tidak dapat menjustifikasi harga. Maksudnya adalah, harga sangat fluktuatif tergantung mood pasar termasuk rumor yang masih isu pun bisa mempengaruhi pasar. jika mood pasar sedang baik, harga saham cenderung tinggi. Nah saat inilah yang cocok untuk menjual saham lalu membelinya kembali ketika harga wajar.
  4. Proporsi saham di portofolio terlalu besar. Ini menyangkut prinsip "jangan taruh banyak telur di satu keranjang". karena portofolio yang terlalu besar di investor, maka untuk mendiversifikasinya harus dengan menjual saham. Tetapi tunggu dulu.... pastikan bahwa yang dijual memang tidak berprospek lagi di masa depan. Jika ada saham yang lebih baik, kenapa dipertahankan saham yang lama... betul..betul..betul (kata Ipin)
So, kapan saat yang tepat untuk menjual saham? Silahkan analisis dulu dari sudut pandang Saudara.

trading saham



Rabu, 16 Juli 2014

Jangan hanya jual/beli saham berdasarkan Bid/Offer

Sebelum saya jelaskan mengapa judul itu saya posting, ada baiknya saya jelasan dulu apa itu bid dan apa itu offer.

  • Bid = penawaran beli, minat beli, antri beli
  • Offer = penawaran jual, minat jual, antri jual
Nah, dari pengertian diatas, yang namanya bid (minat beli) tidak berarti pasti dapat. Hal ini karena bid (minat beli) anda akan terlaksana hanya jika ada pihak lain yang menjual saham kepada anda pada harga Bid tersebut. Begitu juga offer (minat jual), akan terlaksana hanya jika ada pihak lain yang membeli saham kepada anda pada harga Offer tersebut.
Masalahnya, sebelum bid atau offer terlaksana, banyak hal yang bisa terjadi dan bisa anda lakukan, yaitu membatalkan (withdraw) atau mengubah (amend) bid/offer tersebut secara sepihak.
Agar lebih jelas, lihat ilustrasi sebagai berikut :
Misalkan harga WSKT saat ini 730 dan anda memasang Bid 100 lot di 710, artinya "kalau WSKT turun ke 710, gue mau beli 100 lot". Beberapa saat kemudian, saat WSKT turun ke 720, anda berpikir, "kayaknya Bid saya yang 710 masih kemahalan, saya turunin aja dieh di harga 700" Karena order bid anda belum terlaksana, anda boleh saja mencabut Bid di 710 dan memasukkan order baru bid di 700. ini artinya "jika WSKT turun ke 700, baru saya mau beli". Cara ini adalah sah dan legal termasuk jika dilakukan berulang-ulang.
Mungkin anda berpikir : "wah, sama ya kayak jual beli di pasar tradisional". ini benar, tapi ada bedanya, yaitu karena anda tak bertemu dengan penjualnya, maka harga bid/offer dapat dengan mudah diubah atau dibatalkan. Beda kalau anda bertemu langsung dengan penjualnya, jika anda sudah bid 710, masak mau nawar lagi di bid 700, bisa digamparin sama penjualnya tuh.

Oke, masuk ke permasalahan sesuai judul diatas. Mengapa jangan hanya mendasarkan Bid/Offer dalam jual/beli saham? Jawabannya adalah "psikologi harga". Masih belum jelas juga? Oke, pakai ilustrasi dan permainan logika saja seperti ini :
Bagi investor pemula, melihat Bid pada saham ABCD berjumlah puluhan ribu lot pada harga 700, padahal harga terendah offer saat itu 720, mungkin saja langsung berkesimpulan
"wah, saham ini banyak yang mau beli, prospek bagus untuk ambil keuntungan karena peminatnya banyak. So sebelum ketinggalan dan kehilangan potensi untung, lebih baik saya beli beli sekarang juga. "
Akhirnya, anda Bid pada posisi sama dengan offer 720. Masalahnya, bisa saja setelah bid anda terlaksana, bandar besar yang tadinya pasang bid di harga 700 dengan ribuan lot mencabut bid-nya dan harga saham melorot. Bisa saja itu dimanfaatkan oleh bandar agar saham ABCD yang dia punya bisa terjual di 720. Nah, kena deh dikadalin....
So, dalam bid / offer ini bisa saja dipakai pihak-pihak tertentu untuk mempengaruhi pasar. Kesimpulannya adalah "Jangan beli atau jual saham hanya berdasarkan Bid dan Offer", kecuali memang anda ingin menjual / membeli untuk jangka panjang.

online trading