Senin, 11 Agustus 2014

Indikator Makro Ekonomi untuk Pasar Modal

Yang namanya pasar , tentu terkait dengan kondisi pasar, sisi permintaan dan sisi penawaran. Demikian juga dengan pasar modal, kondisi permintaan dan penawaran sangat berpengaruh bagi harga saham di pasar modal. Permintaan dan penawaran sendiri sangat terkait dengan kondisi mikro perusahaan atau emiten dan kondisi makro ekonomi global.
Untuk menentukan apakah suatu investasi cocok dilakukan di suatu negara ataukah tidak, suatu sektor usaha cocok untuk investasi ataukah tidak, dan pilihan-pilihan lain, investor harus memahami kondisi ekonomi makro suatu negara.
Untuk jual beli saham di Pasar Modal, terdapat tiga indikator penting makro ekonomi yang harus diperhatikkan, yaitu :

1. Pendapatan Domestik Bruto (PDB)

PDB dapat diartikan sebagai keseluruhan nilai dari semua barang yang dihasilkan oleh suatu negara. Data PDB biasanya diterbitkan tiap kuartal dan dapat diakses melalui BPS. Yang perlu diperhatikan oleh investor adalah pertumbuhan PDB. Semakin tumbuh PDB, berarti semakin baik suatu negara. Bandingkan juga dengan pertumbuhan tahun lalu, adakah kenaikan atau malah menurun. Jika menurun, bisa dimungkinkan adanya perlambatan ekonomi suatu negara. 
Selain menggambarkan kondisi ekonomi suatu negara, kondisi per sektor juga dapat dianalisis. Data mengenai PDB per sektor dapat juga dilihat di BPS. Nah jika anda sebagai investor akan masuk ke salah satu sektor investasi, misalnya pertambangan, jangan lupa untuk membandingkan PDB per sektor juga karena tiap-tiap sektor bisa jadi mempunyai tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda. Semakin tinggi pertumbuhan PDB suatu sektor maka semakin baik untuk investasi.

2. Neraca Pedagangan

Sesuai namanya, neraca perdagangan bisa diangap suatu timbangan yang membandingkan impor terhadap ekspor suatu negara. Jika ekspor lebih besar maka berarti neraca perdagangan positif/surplus, dan sebaliknya jika impor yang lebih besar maka neracanya negatif/defisit. Jika neraca perdagangannya selalu surplus, artinya ekonomi suatu negara dapat dikatakan baik. Logikanya, banyak barang yang diekspor daripada yang diimpor, artinya negara tersebut "mampu mandiri" bahkan menyuplai kebutuhan negara lain. Begitu juga sebaliknya, jika neraca perdagangan defisit, maka negara bisa jadi bangkrut, atau minimal menjadi "tergantung" pada negara lain. Jika suatu negara banyak bergantung pada negara lain, maka dimungkinkan secara politis dan ekonomis dikuasai / dipengaruhi oleh negara asing. Nah, untuk investor, kondisi neraca perdagangan ini juga akan berpengaruh pada potensi keuntungan karena jika banyak terjadi impor, kemungkinan perubahan biaya yang digunakan perusahaan (terutama yang banyak menggunakan bahan impor) akan sangat berdampak jika ada perubahan kurs . Untuk mengetahui kondisi ekspor dan impor Indonesia, anda dapat melihat di situs BPS.

3. Tingkat Suku Bunga

Sebagai institusi yang bertanggung jawab atas kondisi perbankan, bank Indonesia merilis tingkat suku bunga dan menjadi acuan perbankan untuk menentukan bunga yang akan dibebankan kepada nasabah maupun istitusi perbankan lainnya (terutama bunga pinjaman). Jika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, maka dapat digambarkan bahwa bank Indonesia berpandangan bahwa aktivitas ekonomi sebaiknya direm laju pertumbuhannya, dan sebaliknya, jika suku bunga diturunkan maka ekonomi akan ditumbuhkan. mengapa suku bunga berpengaruh pada ekonomi? 
Secara logika, jika tingkat suku bunga naik, masyarakat akan cenderung menabung dan akan berpengaruh pada pengurangan uang beredar. Artinya, masyarakat yang akan mengembangkan usahanya dimungkinkan akan berpikir kembali, apakah mau ekspansi atau cukup dengan menabung saja. Selain itu, logika lainnya adalah jika tingkat suku bunga dinaikkan, pebisnis yang akan ekspansi (terutama yang menggunakan uang modal hutang) akan berpikir dua kali karena harus membandingkan kembali potensi keuntungan, perkiraan BEP, dll dengan biaya hutang yang harus dibayar ke bank. Jadi, dengan logika tersebut, jika terjadi kenaikan tingkat suku bunga, investasi ke produk perbankan meningkat tetapi investasi ke sektor riil bisa menurun dan berlaku juga sebaliknya.
Jika anda ingin mengetahui tingkat suku bunga perbankan (bukan BI), silahkan menuju ke situs BI ini.

Membeli saham murah-Cek Opini Auditor

Dalam dunia pasar modal, ada kewajiban emiten untuk mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) , paling lambat 90 hari setelah berakhirnya periode laporan keuangan tahunan. Ini berarti paling lambat tanggal 31 harus ada laporan keuangan yang dipublikasikan. Nah, dengan laporan keuangan ini, anda harus meneliti dan menganalisis kondisi keuangan perusahaan sebelum memutuskan untuk membeli saham emiten. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
  1. Predikat penilaian Auditor Kantor Akuntan Publik

Dalam laporan keuangan yang telah diaudit dan dipublikasikan emiten, Anda harus melihat predikat apa yang tercantum dalam laporan keuangan yang telah diaudittersebut. Umumnya, ada empat predikat yang dicantumkan, yaitu :
-          Wajar tanpa Pengecualian (WTP atau Unqualified opinion)
Laporan keuangan dengan status Wajar tanpa Pengecualian ini berarti semua laporan yang telah diaudit oleh KAP sesuai dengan seluruh transaksi, tidak ditemukan hal-hal yang bertentangan atau menyimpang dari standarakuntansi yang berlaku umum. Jika emiten mendapatkan predikat WTP, maka anda dapat mulai menganalisis laporan keuangannya secara lebih mendalam
-          Wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
Laporan keuangan dengan status Wajar dengan Pengecualian ini berarti ada transaksi penting yang telah diaudit oleh KAP yang tidak sesuai dengan standarakuntansi yang berlaku umum sehingga auditor harus memberikan catatan. Jika emiten mendapatkan predikat ini, maka anda harus berhati-hati dalam mulai menganalisis laporan keuangannya secara lebih mendalam karena bisa jadi transaksi yang diberikan catatan tersebut akan berpengaruh pada investasi anda.
-          Tidak wajar (adverse)
Nah, jika pendapatnya adverse, artinya banyak transaksi emiten yang susah ditelusuri dan terdapat kesalahan material dalam laporan keuangan sehingga laporan tersebut bisa memberikan informasi yang salah dan menyesatkan, termasuk bisa merugikan investor.
-          Tidak ada Pendapat dari auditor (disclaimer)
Ini predikat yang paling parah. Artinya, karena sangat semrawut, banyak yang merugikan, sekelas akuntan saja memberikan pendapat disclaimer, artinya auditor aja tidak dapat memastikan kebenaran laporan keuangan, apalagi orang awam. So, jangan bertransaksi/ berinvestasi pada emiten yang meragukan seperti ini.

Untuk analisis ini sudah pernah dibahas dipostingan mari membeli saham murah

Untuk analisis lainnya tunggu postingan berikutnya.

Jumat, 08 Agustus 2014

Pilihan Produk Investasi di Pasar Modal

Pasar modal merupakan salah satu pasar untuk investasi. Sesuai UU Pasar modal No 8 Tahun 1995, instrumen atau produk yang diperdagangkan di pasar modal disebut dengan efek. Efek adalah surat berharga, yang meliputi saham, obligasi, surat pengakuan utang, surat berharga komersial, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

Saham

Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang tercatat di bursa efek. Perusahaan yang tercatat tersbut disebut dengan emiten. Saham dapat dibeli oleh investor melalui penawaran umum perdana  Initial Public Offering atau IPO atau membeli di bursa efek atau disebut pasar sekunder. Saat ini ada sekitar 480 emiten yang mendaftarkan sahamnya di BEI. Bagi Investor, kepemilikan saham mempunyai dua cara untuk mendapatkan keuntungan, yaitu :
  • Capital Gain, yaitu selisih harga jual dengan harga beli. Bagi investor yang memang memanfaatkan perubahan harga di bursa, sebagian besar dari mereka bertujuan untuk mendapatkan capital gain, terutama bagi pemain yang menggunakan margin trading dan sistem short selling. Untuk short selling, investor yang spekulatif yang berani mengambil resiko ini. Capital gain untuk investasi jangka panjang juga bagus untuk investor yang memang investasi untuk jangka panjang.
  • Deviden, yaitu pembagian laba oleh perusahaan kepada pemegang saham. Ini sangat ccok bagi investor yang benar-benar invest dananya untuk memperoleh keuntungan dari operasional perusahaan. Yang perlu diperhatikan bagi investor jika menginginkan deviden adalah kinerja dan tipe perusahaan. Kinerja sangat berpengaruh pada laba yang dihasilkan, sedangkan tipe perusahaan berpengaruh pada apakah perusahaan sering membagi deviden ataukah tidak. Jika sering membagi deviden dengan jumlah besar, maka perusahaan ini untuk jangka panjang tidak cepat berkembang karena penambahan modal ekspansi tidak ada dan sebaliknya.
Pembelian saham membutuhkan modal yang lumayan besar karena jual-beli saham dihitung berdasarkan lot (1 lot = 100 lembar saham) dan minimum transaksi adalah 1 lot. Jadi jika anda ingin membeli saham PT ABCD seharga Rp.1.500,00 / saham, maka minimal anda membutuhkan dana sebesar Rp.1.500.000,00.

Obligasi

Obligasi berisi kontrak antara pemberi dana (investor) dengan pihak yang memperoleh dana (emiten). Emiten penerbit obligasi akan membayar bunga atau kupon secara periodik kepada investor. obligasi bisa dibeli dipasar perdana ataupun di pasar sekunder. obligasi ada jatuh tempo. Di saaat jatuh tempo, pokok obligasi akan dibayarkan kepada investor dan secara otomatis tidak lagi tercatat di BEI. Bagi investor, keuntungan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :
  • Capital Gain, yaitu selisih harga jual dengan harga beli. 
  • Bunga / kupon yang dibayarkan secara periodik
Obligasi dibagi dua jenis yaitu obligasi korporasi (diterbitkan emiten) dan obligasi pemerintah (Surat berharga Negara / SBN, baik dalam bentuk Surat Utang Negara / SUN, Obligasi Ritel Indonesia / ORI, dan Sukuk)
Pembelian obligasi membutuhkan modal yang besar karena rata-rata korporasi kebanyakan mengeluarkan obligasi korporat senilai Rp 1.000.000.000,00. nilai obligasi minimum yang bisa anda beli adalah Rp.5.000.000,00 yaitu atas obligasi pemerintah berupa ORI atau Sukuk Ritel

Reksadana

Untuk reksadana sudah banyak dibahas pada postingan sebelumnya, silahkan klik disini 

Arti Lot dan Odd Lot

Dalam pasar modal terdapat istilah Lot dan Odd Lot. Di bursa saham lot digunakan untuk order jual dan beli di pasar reguler. Jika anda mau bertransaksi, minimal harus jual atau beli satu lot. Pada status Bid atau offer saham di order book, yang biasa tertera adalah besaran lot, bukan lembar saham. Jadi jika 1 lot = 100 dan anda bid dengan volume 1000, berarti anda bid sebanyak 1000 lot atau 100.000 lembar saham.

1. Lot

Lot adalah istilah pemain saham untuk satuan volume saham. Satu lot di bursa efek sama dengan 100 lembar saham. Dahulu, sebelum 1 lot = 100 saham, di bursa saham, 1 lot = 1000 untuk perbankan dan 1 lot = 500 untuk sektor yang lainnya. Karena nilai 1 lot yang besar pada saat itu, hanya sedikit investor yang dapat main saham karena membutuhkan modal besar. Hal ini juga berpengaruh pada frekuensi perdagangan di bursa. Dengan adanya penetapan 1 lot = 100 lembar, diharapkan pelaku pasar modal dapat semakin banyak, termasuk investor dengan modal kecil, serta lebih memperbanyak frekuensi perdagangan.

2. Odd Lot

Secara harfiah, odd lot artinya lot yang aneh. tetapi secara istilah odd lot adalah jumlah saham yang tidak genap satu lot, alias tidak mencapai 100 lembar. Contoh, anda mempunyai 80 lembar saham, maka ini disebut odd lot.
Jika saham anda termasuk odd lot, maka anda tidak dapat menjual saham tersebut di pasar reguler karena di pasar tersebut, transaksi harus dalam bentuk lot. Jadi jika anda ingin bertransaksi, harus dilakukan di pasar non reguler.

Mengapa bisa odd lot?
Odd lot biasanya terjadi sebagai akibat aksi perusahaan, misalnya kebijakan pembagian bonus saham dan right issue.

Mari membeli saham murah

Sebagai manusia, sangat manusiawi jika memiliki keinginan untuk mendapatkan barang yang murah dengan kualitas bagus lalu dijual dengan harga mahal. Tetapi bisakah diperoleh barang murah berarti kualitas bagus ? Tentu tidak semudah itu. Begitu juga dengan jual-beli saham. Mindest yang beredar masih saja "saham murah itu pasti harganya rendah". Padahal istilah di jawa sering menyebut "ono rego ono rupo" artinya harga yang kita bayarkan akan setimpal dengan kualitasnya. Istilah "saham murah" disini saya ambil bukan berdasarkan harga sahamnya yang murah, tetapi nilai saham yang dijual murah dibandingkan dengan nilai sebenarnya. Saham-saham banyak dijual dengan nominal murah tetapi secara valuasi (nilai) ternyata dijual sangat mahal.
Untuk mengetahui apakah saham itu murah atau mahal bisa dilakukan analisis dengan menghitung nilai Price Earning Ratio (PER). PER adalah perbandingan harga saham dibandingkan dengan laba bersih setahun (Earning Per Share / EPS) yang dihasilkan oleh perusahaan selama setahun. Semakin tinggi PER, semakin mahal harga saham tersebut.  Normalnya, saham dikatakan murah jika nilai PER-nya tidak lebih dari 10 kali.

Bagaimana Logika PER bisa mendeteksi murahnya saham?

Logika yang berlaku dalam mendeteksi saham dengan analisis PER adalah bagaimana perusahaan bisa mengembalikan investasi pemegang saham. Logikanya tentu berhubungan dengan Break Even Poin dan Keuntungan investasi. Untuk contohnya sebagai berikut : 
1. Saham ABCD , harga per saham 100, laba bersih per saham 10, maka PER-nya 100/10 = 10. Apa artinya bagi investor : harga ABCD adalah 10 kali EPS-nya.  jika dia beli saham tersebut maka BEP akan tercapai paling tidak 10 tahun, setelah itu keuntungan yang diperoleh.
2. Saham XVGB, harga per saham 100, laba bersih per saham 20, maka PER-nya 100/20 = 5. Apa artinya? harga ABCD adalah 5 kali EPS-nya. jika kondisi stabil, investor akan BEP pada tahun ke-5, dan setelah itu keuntungan yang diperoleh.
Jika logikanya seperti itu, anda pilih beli saham ABCD atau XVGB ? Silahkan dianalisis dan didalami sendiri.

Bagaimana menghitung PER perusahaan dan sumber datanya?

Setelah ada kewajiban publikasi oleh BEI/OJK kepada perusahaan emitten, investor lebih mudah mengawasi perusahaan terbuka. Biasanya tiap perusahaan melaporkan kinerja tiap triwulan (Quarter / Q), semesteran atau tahunan sebelum dilakukan Rapat umum Pemegang Saham. Nah dengan data publikasi ini, kita dapat menghitung PER perusahaan tersebut. Jika dasar yang digunakan adalah Laporan Triwulanan (Q) maka harus dikalikan 4 dulu sehingga diperoleh per tahun.

Bagaimana membandingkan PER untuk memperoleh saham murah?

Penggunaan PER untuk menentukan saham yang murah hanya dapat dilakukan sebagai perbandingan antar beberapa perusahaan dengan sektor yang sama. Perbandingan apel dengan apel, bayam dengan bayam, jangan membandingkan apel dengan bayam. Maksudnya jika anda akan menggunakan PER ini untuk membandingkan saham untuk mendapatkan saham termurah, maka anda harus membandingkan PER dari perusahaan dengan sektor yang sama, misalnya saham perusahaan Bank BCA dengan bank Mandiri, Saham perusahaan perkebunan A dengan saham perkebunan B. Kenapa harus sektor yang sama? karena bisnis dan kondisi ekonomi global berpengaruh secara menyeluruh pada perusahaan dengan sektor yang sama. Contohnya : Kenaikan harga batubara akan sangat berpengaruh pada kinerja perusahaan di sektor pertambangan batu bara, demikian juga dengan perubahan harga CPO dunia, akan berpengaruh pada kinerja perusahaan perkebunan dan produsen minyak goreng.

Mengenal Jenis-Jenis Saham

Sebagai sebuah bukti kepemilikan, saham ternyata mempunyai beberapa jenis, dengan keunggulan tertentu bagi pemiliknya. Salah satu pembagian jenis saham adalah dilihat dari sisi klaimnya, kategori / kinerja perdagangan dan cara peralihan.

Pembagian Jenis Saham menurut klaimnya

Dari sisi klaimnya, saham dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

1. Saham Biasa / Common Stock

Saham biasa atau common stock biasanya merupakan jenis efek yang paling sering digunakan oleh perusahaan emitten yang menjual sahamnya kepada publik untuk memperoleh dana dari masyarakat . Saham jenis ini paling populer di pasar modal karena paling sering diperdagangkan. Pemilik saham ini mempunyai hak suara proporsional pada pemilihan direksi serta keputusan lain yang ditetapkan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pemegang saham ini juga akan menerima deviden jika perusahaan memperoleh laba dan disetujui adanya pembagian laba oleh RUPS. Selain itu, pemilik saham biasa juga mempunyai hak mendahulu jika perusahaan akan menerbitkan saham baru (right issue). Lebih khusus lagi, tanggung jawab pemegang saham hanya terbatas pada saham yang dimiliki saja.

2. Saham Preferen / Preferred Stock

Saham preferen biasanya disebut juga sebagai saham campuran karena memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi). seperti saham biasa tetapi memiliki karakteristik yang unik. Karakteristik unik saham preferen adalah :

  • Bisa mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis diatas lembaran saham. 
  • Saham preferen memiliki berbagai tingkat dan perusahaan dapat menerbitkan dengan karakteristik yang berbeda. 
  • Mempunyai tagihan terhadap aktiva dan penghasilan serta mempunyai prioritas lebih tinggi dari saham biasa dalam pembagian dividen
  • Sifat dividen kumulatif, maksudnya jika belum menerima deviden dari periode sebelumnya maka dapat memperoleh deviden yang belum dibagikan tersebut pada saat pembagian deviden berikutnya.
  • Konvertibilitas, dapat ditukar menjadi saham biasa, bila kesepakatan antara pemegang saham dan organisasi penerbit terbentuk

Pembagian Jenis Saham menurut kinerja perdagangan / kategorinya

Bila ditinjau dari kategori atau kinerja perdagangan, jenis-jenis saham adalah :

  • Blue chip stocks, saham biasa ini dikeluarkan oleh perusahaan dengan reputasi tinggi, penghasilan (laba) yang stabil , perusahaan yang menjadi leader dalam industri yang digeluti, dan konsisten dalam melakukan pembayaran dividen
  • Income stocks, saham ini diterbitkan oleh perusahaan dengan kemampuan membayarkan dividen melebihi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya dan secara teratur membaginya dalam bentuk deviden tunai. Perusahaan penerbit saham ini biasanya tidak mementingkan potensi (termasuk pengembangan usaha) sehingga fokus pada pembagian deviden dan tidak mempunyai laba ditahan yang banyak.
  • Growth stocks, terdiri dari well-known (dikeluarkan oleh perusahaan terkenal) dan lesser-known (dikeluarkan oleh perusahaan tidak terkenal). 
  • Speculative stocks, saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, mempunyai prospek yang tidak pasti dimasa mendatang tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang, 
  • Counter Cyclical stocks, saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Artinya, jika resesi ekonomi dunia terjadi, harga saham tidak banyak terpengaruh.
  • Emerging Growth Stocks, saham yang dikeluarkan oleh perusahaan emiten yang relatif kecil, relatif stabil walau kondisi ekonomi yang kurang mendukung
  • Defensive Stocks, saham yang baik, tetap stabil , baik dari suatu periode atau dari kondisi yang tidak menentu dan resesi ekonomi.

Selasa, 05 Agustus 2014

Mengenal apa itu IHSG

Jika berbicara tentang pasar modal, terutama saham, tentu sering mendengar istilah Indeks Harga Saham gabungan (IHSG). IHSG ini merupakan indikator pergerakan pasar saham, dan bahkan menjadi cerminan dari wajah perekonomian nasional, termasuk patokan bagi investor untuk menilai performa portofolio saham.

Bagaimana IHSG terbentuk

Harga saham yang digunakan dalam menghitung IHSG adalah harga saham di pasar reguler. metode penghitungannya menggunakan nilai pasar seluruh saham yang tercatat di bursa sebagai bobot penghitungan indeks. nilai pasar suatu saham adalah hasil perkalian jumlah saham yang dicatatkan dengan harganya. Nilai Pasar ini juga biasa disebut dengan kapitalisasi pasar. Sedangkan untuk hari dasar perhitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100.
Secara sederhana, setiap saham dihitung terlebih dahulu kapitalisasi pasarnya, kemudian dijumlahkan seluruh kapitalisasi pasar unuk semua saham, lalu dibagi dengan nilai dasar, kemudian dikalikan 100. Nilai dasar merupakan kapitalisasi pasar seluruh saham pada hari dasar.
Bursa efek Indonesia, sebagai otoritas yang mengelola IHSG saat ini mengumumkan IHSG setiap hari, tepatnya setelah penutupan perdagangan. BEI seharusnya menggunakan semua harga saham perusahaan yang tercatat di bursa sebagai komponen penghitungan indeks. namun, agar IHSG dapat menggambarkan pasar yang wajar, BEI dapat dan mempunyai wewenang untuk sewaktu-waktu mengeluarkan atau tidak menggunakan saham-saham tertentu dari perhitungan. dasar pertimbangannya antara lain jika jumlah saham perusahaan tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif kecil sementara kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham berpotensi mempengaruhi IHSG padahal transaksinya sedikit.

Apakah kenaikan / penurunan IHSG berarti kenaikan / penurunan semua saham?

Kenaikan/penurunan IHSG tidak berarti terjadi kenaikan/penurunan seluruh saham. Tetapi hanya menggambarkan bahwa sebagian besar saham mengalami kenaikan/penurunan. Misalnya hari A terjadi kenaikan IHSG, artinya saham-saham yang mengalami kenaikan mempunyai kapitalisasi yang lebih besar dibandingkan saham-saham yang mengalami penurunan. Demikian juga sebaliknya.