Yang namanya pasar , tentu terkait dengan kondisi pasar, sisi permintaan dan sisi penawaran. Demikian juga dengan pasar modal, kondisi permintaan dan penawaran sangat berpengaruh bagi harga saham di pasar modal. Permintaan dan penawaran sendiri sangat terkait dengan kondisi mikro perusahaan atau emiten dan kondisi makro ekonomi global.
Untuk menentukan apakah suatu investasi cocok dilakukan di suatu negara ataukah tidak, suatu sektor usaha cocok untuk investasi ataukah tidak, dan pilihan-pilihan lain, investor harus memahami kondisi ekonomi makro suatu negara.
Untuk jual beli saham di Pasar Modal, terdapat tiga indikator penting makro ekonomi yang harus diperhatikkan, yaitu :
Untuk menentukan apakah suatu investasi cocok dilakukan di suatu negara ataukah tidak, suatu sektor usaha cocok untuk investasi ataukah tidak, dan pilihan-pilihan lain, investor harus memahami kondisi ekonomi makro suatu negara.
Untuk jual beli saham di Pasar Modal, terdapat tiga indikator penting makro ekonomi yang harus diperhatikkan, yaitu :
1. Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
PDB dapat diartikan sebagai keseluruhan nilai dari semua barang yang dihasilkan oleh suatu negara. Data PDB biasanya diterbitkan tiap kuartal dan dapat diakses melalui BPS. Yang perlu diperhatikan oleh investor adalah pertumbuhan PDB. Semakin tumbuh PDB, berarti semakin baik suatu negara. Bandingkan juga dengan pertumbuhan tahun lalu, adakah kenaikan atau malah menurun. Jika menurun, bisa dimungkinkan adanya perlambatan ekonomi suatu negara.
Selain menggambarkan kondisi ekonomi suatu negara, kondisi per sektor juga dapat dianalisis. Data mengenai PDB per sektor dapat juga dilihat di BPS. Nah jika anda sebagai investor akan masuk ke salah satu sektor investasi, misalnya pertambangan, jangan lupa untuk membandingkan PDB per sektor juga karena tiap-tiap sektor bisa jadi mempunyai tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda. Semakin tinggi pertumbuhan PDB suatu sektor maka semakin baik untuk investasi.
2. Neraca Pedagangan
Sesuai namanya, neraca perdagangan bisa diangap suatu timbangan yang membandingkan impor terhadap ekspor suatu negara. Jika ekspor lebih besar maka berarti neraca perdagangan positif/surplus, dan sebaliknya jika impor yang lebih besar maka neracanya negatif/defisit. Jika neraca perdagangannya selalu surplus, artinya ekonomi suatu negara dapat dikatakan baik. Logikanya, banyak barang yang diekspor daripada yang diimpor, artinya negara tersebut "mampu mandiri" bahkan menyuplai kebutuhan negara lain. Begitu juga sebaliknya, jika neraca perdagangan defisit, maka negara bisa jadi bangkrut, atau minimal menjadi "tergantung" pada negara lain. Jika suatu negara banyak bergantung pada negara lain, maka dimungkinkan secara politis dan ekonomis dikuasai / dipengaruhi oleh negara asing. Nah, untuk investor, kondisi neraca perdagangan ini juga akan berpengaruh pada potensi keuntungan karena jika banyak terjadi impor, kemungkinan perubahan biaya yang digunakan perusahaan (terutama yang banyak menggunakan bahan impor) akan sangat berdampak jika ada perubahan kurs . Untuk mengetahui kondisi ekspor dan impor Indonesia, anda dapat melihat di situs BPS.
3. Tingkat Suku Bunga
Sebagai institusi yang bertanggung jawab atas kondisi perbankan, bank Indonesia merilis tingkat suku bunga dan menjadi acuan perbankan untuk menentukan bunga yang akan dibebankan kepada nasabah maupun istitusi perbankan lainnya (terutama bunga pinjaman). Jika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, maka dapat digambarkan bahwa bank Indonesia berpandangan bahwa aktivitas ekonomi sebaiknya direm laju pertumbuhannya, dan sebaliknya, jika suku bunga diturunkan maka ekonomi akan ditumbuhkan. mengapa suku bunga berpengaruh pada ekonomi?
Secara logika, jika tingkat suku bunga naik, masyarakat akan cenderung menabung dan akan berpengaruh pada pengurangan uang beredar. Artinya, masyarakat yang akan mengembangkan usahanya dimungkinkan akan berpikir kembali, apakah mau ekspansi atau cukup dengan menabung saja. Selain itu, logika lainnya adalah jika tingkat suku bunga dinaikkan, pebisnis yang akan ekspansi (terutama yang menggunakan uang modal hutang) akan berpikir dua kali karena harus membandingkan kembali potensi keuntungan, perkiraan BEP, dll dengan biaya hutang yang harus dibayar ke bank. Jadi, dengan logika tersebut, jika terjadi kenaikan tingkat suku bunga, investasi ke produk perbankan meningkat tetapi investasi ke sektor riil bisa menurun dan berlaku juga sebaliknya.
Jika anda ingin mengetahui tingkat suku bunga perbankan (bukan BI), silahkan menuju ke situs BI ini.
