Bagi sebagian besar orang, pendapat buruk mengenai berinvestasi di pasar modal terutama saham masih tetap ada, seperti :
Bisnis riil memang lebih kelihatan, artinya dapat diprediksi dengan jelas dan matematis. tetapi tidak demikian dengan resikonya. Sebagai contoh adalah bisnis waralaba/ franchise yang beberapa tahun ini sangat marak. Modal yang dibutuhkan juga variatif, tergantung jenis franchise-nya, bisa mulai 3 juta sd miliaran. Kalkulasi potensi keuntungan juga digambarkan jelas oleh franchisor dan menggiurkan. tetapi semuanya tetap mempunyai resiko, apakah resiko bisa digambarkan dengan jelas? Karena menyangkut ketidakpastian, tentu saja tidak dapat diprediksi dengan jelas, hanya dapat diperkirakan, misalnya syarat break even point tercapai 2 tahun jika pembelian sekian kali. So, banyak juga franchisee yang akhirnya tutup karena rugi karena salah perhitungan dan salah antisipasi, termasuk terlilit utang. Jika utang tidak terbayar tentu dilakukan sita dan lelang.
Lalu bagaimana dengan saham? sama saja, ada potensi keuntungan, dan ada potensi kerugian hingga bangkrut. Secara teori, kebangkrutan pada investasi saham sering terjadi jika investor banyak menggunakan fasilitas margin trading atau utang untuk membeli saham. Jika saat beli dengan fasilitas margin mendapatkan saham berkualitas dan ketika menjualnya kembali memperoleh untung, maka investor untung, tetapi bagaimana jika tidak, tentu rugi, rugi diharga saham, plus rugi dibunga jika pembayaran fasilitas melewati jatuh tempo pembayaran.
- "main saham itu seperti judi"
- "main saham bisa bikin bangkrut"
- "daripada main di saham mending di bisnis riil, lebih pasti"
Bisnis riil memang lebih kelihatan, artinya dapat diprediksi dengan jelas dan matematis. tetapi tidak demikian dengan resikonya. Sebagai contoh adalah bisnis waralaba/ franchise yang beberapa tahun ini sangat marak. Modal yang dibutuhkan juga variatif, tergantung jenis franchise-nya, bisa mulai 3 juta sd miliaran. Kalkulasi potensi keuntungan juga digambarkan jelas oleh franchisor dan menggiurkan. tetapi semuanya tetap mempunyai resiko, apakah resiko bisa digambarkan dengan jelas? Karena menyangkut ketidakpastian, tentu saja tidak dapat diprediksi dengan jelas, hanya dapat diperkirakan, misalnya syarat break even point tercapai 2 tahun jika pembelian sekian kali. So, banyak juga franchisee yang akhirnya tutup karena rugi karena salah perhitungan dan salah antisipasi, termasuk terlilit utang. Jika utang tidak terbayar tentu dilakukan sita dan lelang.
Lalu bagaimana dengan saham? sama saja, ada potensi keuntungan, dan ada potensi kerugian hingga bangkrut. Secara teori, kebangkrutan pada investasi saham sering terjadi jika investor banyak menggunakan fasilitas margin trading atau utang untuk membeli saham. Jika saat beli dengan fasilitas margin mendapatkan saham berkualitas dan ketika menjualnya kembali memperoleh untung, maka investor untung, tetapi bagaimana jika tidak, tentu rugi, rugi diharga saham, plus rugi dibunga jika pembayaran fasilitas melewati jatuh tempo pembayaran.
Bagaimana cara meminimalkan kerugian trading saham?
Ada berbagai teknik untuk meminimalkan potensi kerugian dalam trading saham, salah satunya adalah pembelian saham-saham blue chip yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan yang kuat secara fundamental dan berkinerja bagus, seperti : Indofood, Astra, BCA, dll.
So, mana yang anda pilih, Bisnis Riil atau Investasi Saham? dua-duanya penya resiko dan potensi keuntungan.

Selamat Siang,
BalasHapussaya sudah membaca blog anda, sangat mudah di pahami dan saya sangat tertarik untuk bekerja sama dengan anda, kami dari Forexmart menawarkan kerja sama affiliasi yang sangat menguntungkan untuk anda, jika anda berminat dan tertarik dengan penawaran ini bisa menghubungi email saya di hellokittykucing89@gmail.com dan saya akan memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai penawaran kerjasama ini.
Terima Kasih dan salam sukses untuk anda